Maaf, Aku Tak Mengerti
Banyak
pilihan dalam hidup ini yang menyebabkan semua insan manusia tidak pernah
merasa puas. Untain kalimat sayang, cinta maupun rindu tidak pernah berhenti
mengalir dalam tubuh sepasang kekasih.
Bunga-bunga mekar menghiasi wajah mereka yang sedang jatuh cinta, tapi
adapula yang merasa sakit dengan cinta. Semua ingin merasakan cinta sejati,
namun beda dengan Sagita dia sangat membenci cinta karena dia mengartikan cinta
adalah sesuatu yang ujung-ujungnya bakalan berakhir dengan sakit hati, tidak
ada bagusnya cinta itu, harus beginilah begitu membuatnya pusing.
Di
tengah panasnya terik matahari Sagita pulang dari kampus, dan dengan
kebiasaannya dia pulang berjalan kaki karena kosnya tidak terlalu jauh dengan
kampus. “hai Gita....boleh aku antar kamu?” sapa Evan temen kampus Sagita. “Eh ..kamu, ya thanks aku jalan aja dekat kok
kost ku” jawab Sagita
“
Enggak apa-apa, kasihan kamu panas begini” rayu Evan
“ Hmm
gimana ya, oke tapi kali ini aja ya” jawab Sagita dengan senyum manis
“Oke tenang
aja sama aku” lanjut Evan. Akhirnya mereka berjalan menuju kost Sagita, dalam
perjalanan Evan sempat menggoda, “Gita, kamu udah punya pacar” tanya Evan
degdegan
“
Belum, aku ga ngerti pacaran dan ga mau pacaran sebelum aku kerja” jawab Sagita
“ Klo
gitu boleh dong aku ajak kamu jalan-jalan, ya biar ga sumpek kali pikirannya
kuliah melulu” rayu Evan
“
ENGGAK !!!” sahut Sagita marah
“ lho
koq gitu, kamu dah lulus sensor, dari dulu aku suka sama kamu dan aku perhatiin
kamu, aku tau kamu pendiam, jutek dan pinter...kamu mengerti kan dengan maksud
aku??”
Sagita
hanya diam saja. “ knapa kamu Gita.? Kok diem aja” tanya Evan penasaran dan
akhirnya mereka sampai dan dengan terkejut Evan melihat Sagita yang ternyata
menggunakan headset mendengarkan musik dari handphonenya. “Gita, kamu denger ga
omongan aku tadi?” tanya Evan gugup
“ Omong
apa?” tanya Sagita degan wajah bingung
“ hmm..
aku ga ngomong apa-apa maaf ya” tegas Evan dengan wajah bingung juga. “ Evan
thanks ya udah antar aku” lanjut Sagita. Evan hanya tersenyum saja dan bergegas
meninggalkan Sagita dengan perasaan kecewa. “ Mengapa gadis secantik Sagita ga
mau mengenal cinta, aku jujur aku mencintai kamu, aku cinta pandangan pertama,
oh Gita dengarkan isi hatiku” ucap Evan dalam hati dalam perjalanannya pulang.
Karena merasa kepanasan dia menyempatkan diri mampir ke minimarket untuk
membeli minuman dingin, dan tanpa sengaja Evan bertemu dengan teman kampusnya
juga. “wah...habis ngantar cewek jadi kering tenggorokan loe” sapa Erwin. “Iya emang kenapa?” tanya Evan
“Emang
Loe dah jadian?” tanya Erwin penasaran
“Udah”
jawab singkat Evan dengan percaya diri
“wah...gimana
cara loe dapetin, gue udah bertahun tahun pedekate ga bisa meraih cintanya”
sahut kegirangan dan kecewa Erwin
“
Rahasia gue donk” Jawab Evan bangga, Evan bergegas meninggalkan Erwin. Evan
merasa bersalah dengan kelakukannya yang telah membongongi perasaannya sendiri
dan temannya. Tapi Evan memiliki semangat yang sangat kuat buat merebut hati
Sagita.
Hari
pun berganti dari terik panas sang mentari kini berganti dengan lembutnya
belaian sinar rembulan. Sagita tidak pernah keluar dari kamar kost hanya berada
di atas meja dengan sebuah buku dan pena,ntah apa yang ditulis maupun dibaca.
Beda halnya dengan Evan dia selalu menghabiskan malamnya dengan keluyuran
diluar, tapi untuk malam ini dia lagi galau diatas tempat tidurnya.
“
Aduh...kenapa mata ini ga mau dipejamin sih?” teriaknya sendiri
“Apa
mungkin aku karena masih terjaga paras gita yang mempesona, aduh Tuhan tolong
aku, jika dia jodohku dekatkan dan jika bukan jauhkan” lanjut Evan
“krkk...ada
apa sih Evan? Suara kamu kedengeran ma tetangga”tanya mama Evan
“eh
mama....anu ma perut,eh kepala saya sakit ma, jadi kalau di keluarin dengan
teriak beban sakitku hilang ma” jawab evan gugup
“klo
sakit kepala mesti diobati bukan teriak, ni hari udah malam semua pada tidur”
tandas Mama Evan
“ Iya
Ma, maaf” jawab Evan sambil memabalikan badan membelakangi Mamanya
“ Iya
kalo gitu kamu tidur ya,malu sama tetangga” jawam Mama Evan sambil menutup
pintu kamar Evan
“Kring....Kring....”
“Aduh...tau
orang lagi tidup apa” keluh Evan
Evan
meraih handphonenya, dilihat nama yang memanggil
“Gita,
ada apa kok tumben, pasti kamu mau ajak aku kencan ya?” tanya Evan
“ Evan
nanti tolong bawa buku Bahasa aku yang pinjam” jawab Sagita
“ Iya
sayang, nanti aku bawa kok...apa perlu aku jemput di kost kamu biar sekalian
aja aku bawa buku kamu, gimana kamu setuju?” tanya Evan dengan semangat. “lho
kamu kok diam aja?” dengan penuh tanda tanya Evan melihat handphonenya ternyata
dia ngomong sendiri Sagita sudah menutup dari tadi. Evan senyum-senyum kecil
merasa malu pada dirinya sendiri.
Sesuai
dengan janji untuk mengembalikan buku yang Evan pinjam, dia menunggu Sagita di
taman kampus. “ Hai Gita, ini bukunya thanks ya udah ngasi pinjem aku” sapa
Evan sambil menyodorkan buku
“ Iya
sama-sama” Jawab Sagita sambil mengambil bukunya dan duduk membuka bukunya.
“
Gita...boleh ga aku jujur sama kamu?” tanya Evan gugup
Sagita
hanya angguk-angguk sambil memperhatikan bukunya dan melewati setiap halaman. “
Aku suka sama kamu” jujur Evan mengungkapkan
Gita
hanya mangguk-mangguk dan sesekali melemparkan senyum ke muka Evan dan kembali
memperhatikan bukunya. “ apakah kamu mengerti dengan maksudku?” Evan
memperjelas. Sikap Sagita sama seperti tadi, tidak berubah sedikit pun. “
Berarti aku sekarang punya teman malam minggu, asik” Evan meloncat kegirangan
dan tak sengaja mencium tangan Sagita.
“BRAKKK...”
sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Evan
“Apa
maksud loe, ga pernah punya sopan santun loe ya?” Sagita berdiri dengan wajah
merah menahan marah.
“ Loe
kan udah nerima cinta gue tadi, loe kan udah pacar gue, jadi gue udah boleh
mencium loe” Evan mencoba menjelaskan
“ Apa
gue pacar loe?kapan gue nerima loe? Jangan-jangan loe mimpi” tanya Sagita. “ Tidak....
aku sadar tadi ka....” ucap Evan terputus karena Sagita telah pergi dari
hadapannya. “ Apa yang aku lakukan aku tadi ya? Aku kok bingung sendiri?” ucap
Evan kebingungan sambil berjalan menuju parkiran sambil mengelus-elus pipinya
yang masih terasa perih bekas tamparan gadis cantik yang dia idamkan. Perjalanan
pulang Evan sangat menyenangkan baginya, karena sikap dingin Sagita membuatnya
penasaran setengah mati untuk memiliki gadis itu. Berbagai hal telah dia
lakukan tapi sikapnya masih dingin dan dia memiliki banyak rencana untuk
mendapatkan hatinya. Sebulan sudah Evan melakukan berbagai cara tapi tetap
gagal, mulai dari memberikan hadiah kecil di bangkunya namun Sagita bukan
mengambil dan menyimpan malahan dia mengumumkan di kelas bahwa dia menemukan hadiah
itu. Perasaan malu Evan tidak berakhir sampai disitu aja. Dia mengirimkan
rangkaian bunga mawar yang indah di kost Sagita tapi apa yang terjadi Sagita
memberikannya pada teman kostnya. Hampir setiap jam Evan membuat rencana yang
membuat Sagita semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada hari-harinya yag
selalu mendapatkan kado kecil, kartu ucapan, puisi romantis dan bunga mawar. “
Gita, kamu kok seneng banget belakangan ini kamu banyak dapat hadiah dari cowok
pemujamu” Tanya Ria
“
tidak, aku malah benci dengan semua ini, aku merasa terganggu!” jawab Sagita
“ Kok
gitu, seharusnya kamu bersyukur ada orang yang perhatian ma kamu” lanjut Ria.
“
pokoknya tidak, aku tidak senang. Aku masih mencari orangnya andai saja aku
ketemu dengan orangnya aku bakalan hajar dia!” jawab Sagita
“ Aneh
kamu Gita” lanjut Ria dengan wajah penasaran
“
biarin...aku ga suka dengan orang yang tidak mau langsung mengungkapkan
perasaannya, masa harus pake gini segala kan boros” jawab Sagita
Tanpa
disadari Sagita, Evan mendengarkan semua prcakapannya. Dan Evan merasa puas
karena dia tahu apa keinginan Sagita dan tau cara mendapatkan cintanya. Evan
dengan senyum bahagia berlari menghampiri Sagita dan dia akan mengatakan
perasaannya.
“ Hai
Gita...kamu sadar ada aku disini?” Evan ingin meyakinkan Sagita biar tidak
seperti kemarin-kemarin.
“ Iya
memangnya ada apa? Aku sadar kok,” jawab Sagita penasaran
“ Hari
ini aku mau jujur sama kamu,”
“Jujur
apa sih? Ow pasti kamu melakukan semua ini ya? Ayo ngaku kamu?” jawab Sagita
dengan nada marah melototi Evan
“ Iya,
aku melakukan semua ini karena rasa cintaku yang sangat besar kepadakamu,
tolong kamu mengerti Gita, aku sayang kamu” Evan memohon sambil memegangi
tangan Sagita
“Gila
kamu ya, menghamburkan uang hanya untuk mendapatkan cinta begitu?mengapa ga
ngomong aja ma aku?” tanya Sagita
“ Iya
kamu benar, tapi dulu aku sempat jujur ma kamu di jalan pas aku ngantar kamu
diem aja, pas aku jujur di taman kamu nampar aku, sadar ga kamu? Aku sangat
mencintai kamu, aku rela melakukan apa saja hanya untuk kamu” jawab Evan.
Sagita hanya bengong dan memikirkan yang telah dia lakukan kepada perhatian
Evan selama ini dan apa yang telah berikan Evan kepadanya. “Maafkan aku Evan,
jujur aku tidak mengerti maksud kamu” Sagita menjawab dengan rasa sangat bersalah.
“ Jadi kamu nerima aku” Tanya Evan.
“Maaf aku tak mengerti dengan kata-katamu” Sagita meninggalkan Evan
sendirian, Evan hanya tersenyum dan berkata “ Terimakasih Tuhan, diriMu telah
menunjukkan dia bukan jodohku”. SELESAI.
Ketika Pendiam Berkata Cinta
Diceritakan
dalam kisah ini seorang mahasiswi yang terkenal sangat aktif, cerdas, dan
lumayan pintar dia adalah Putri. Putri terlahir dari keluarga yang sangat
sederhana, tapi semangat belajarnya sangat tinggi sehingga dia mampu meraih
beasiswa. Kalau dilihat dari wajahnya biasa saja dengan rambut panjang sampai
pantat, manis dan polos tapi kebanyakan cowok yang melihatnya dan berbicara
dengan Putri merasa tenang dan nyaman, entah kenapa.
“Putri
..... gimana kabar loe? Sapa teman dekat di halaman kampus
“ Hai Yuli
aku baik-baik aja, sebulan ga ketemu koq makin kurus aja kamu?”
“ Iya
aku ga ngerti....oh ya aku dengar kamu dapat nilai tertinggi ya? Wah hebat
kamu...pasti ada main ma dosennya ya? Hehee” goda Yuli. “ Enak aja kamu...belajar
donk,” sahut Putri dengan nada tinggi. Belum selesai mereka berdua
berbincang-bincang Putri dipanggil sama dosen. “ Putri, sini sebentar” panggil
Pak Wawan. Pak Wawan adalah dosen termuda yang lumayan pintar dan ganteng
dengan ciri khasnya adalah matanya yang selalu dihiasi kaca mata. Semua
mahasiswa menyukainya, adapula yang pingin jadi pacarnya. “ Iya pak, ada yyang
bisa saya bantu?” tanya Putri. “ Begini, kamu kan Korti, jadi saya minta kamu
mengantar teman saya yang juga dosen kalian disini untuk mengajar semester ini
juga, perkenalkan Pak Putra” lanjut pak Wawan
“ Oh
iya Pak, perkenalkan saya Putri” Putri menjabatkan tangan kepada Pak Putra
“ Putra”
jawab Pak Putra singkat
“ Pak Putra
nanti kalau ada apa-apa hubungi Putri saja, dia adalah korti di kelas” kata Pak
Wawan
“ Iya
Jon, thankz ya... aku ke kelas dulu”
“ Mari
Pak ikut saya,” dengan senyum yang khas Putri berjalan menuju kelas bersama
dosen barunya itu.
Keadaan kelas yang lumayan jauh membuat kaki Putri
yang menggunakan sepatu high heels kadang merasa sakit. Semua mahasiswa/i
melihat Putri dan Pak Putra melintas. Entah apa yang mereka bayangkan, apakah
kegantengan dosen muda itu atau Putri yang polos dan lugu tapi enak klo di
pandang? Eentahlah. “ teman-teman semua udah ngabsen?” tanya Putri
“
Sudah” serempak teman sekelas Putri menjawab
“ Baik
Pak ini absennya” Putri memberikan absen kepada dosen muda itu dan Putri
kembali ke tempat duduknya. “ Baik saudara-saudara semua, perkenalkan nama saya
Putra saya akan mengempu mata kuliah Statistik, alamat saya dari Jalan Udayana
no.11. ada yang perlu ditanyakan lagi tentang saya sebelum masuk ke materi?”
tanya Pak Putra. Semua mata melotot melihat kegantengan pak Putra karena
melebihi keistimewaan Pak Wawan, “ statusnya apa pak?” tanya Weni. Wajah Weni
lumayan cantik dia adalah wanita idaman di kampus. Selain cantik dia juga
terlahir di keluarga yang berada.
“
Status saya masih lajang” jawab singkatnya. Kegiatan belajar pun berjalan
sesuai SKS dan akhirnya selama 3 jam duduk belajar statistik terasa pusing
karena bermain angka. “ Baik Materi kita
selesaikan sampai disini dulu, kita lanjutkan pertemuan yg akan datang” tutup
Pak Putra. Akhirnya pak Putra meninggalkan kelas dengan senyuman yang manis. “ Putri....ganteng
kali ya dosennya, andaikan aku bisa mendapat hatinya” sapa Weni sambil
senyum-senyum kayak orang gila. “ ah biasa aja menurut aku” jawab Putri
“ aduh Putri...tadi
aku kagak konsentrasi belajar, aduh gantengnya” lanjut Weni
“ iya
ganteng, sana samperin” perientah Putri. “aku malu” lanjut Weni. “Ya udah”sahut
Putri
Waktu
terus berjalan, hari terus berganti. Pak Putra Orangnya pendiam jarang sekali
membuka hal tentang dirinya sangat beda dengan Pak Wawan. Sore ini Putri ingin
menghibur diri jalan-jalan ke pantai dengan sepupunya yang seumuran dengannya..
“ Putri...siapa pacar kamu sekarang” tanya Noni. Putri tidak menjawab dan
tersenyum saja. Dia teringat dengan kekasihnya yang jauh disana bekerja, Putri
menunggu dengan setia meskipun jarang bisa berkomunikasi dengan alasan
pekerjaan. Putri tetap menerima alasan itu, dan tetap percaya dengan
keadaannya. Hampir 5 tahun mereka tidak bertemu, dan akhirnya sekarang ada
kabar bahwa kekasihnya akan pulang. Perasaan gembira Putri bercampur terharu
pingin cepat ketemu, dan akhirnya mereka ketemu. Suasana berbeda tak seperti
mereka berpisah, meskipun kekasihnya sudah pulang kampung tapi tidak mendatangi
Putri, malah Putri mencari kerumahnya. Banyak pertanyaan dalam benak Putri.
“dedi gimana kabarmu, aku merindukan kamu” sapa Putri kepada kekasihnya dengan
senyuman yang manis. “ Aku baik-baik saja, oh ya ini ada oleh-oleh buat kamu”
lanjut Dedi dengan memberikan sesuatu yang berbentuk seperti amplop. “apa ini?
Apa maksud semua ini? Kau nilai aku seperti apa? Apa arti kesetiaan ku?” Putri
menjerit histeris ketika oleh-oleh yang di dapatkan selama 5 tahun adalah kartu
undangan pernikahan. Dedi hanya diam saja, Putri menangis menitikkan air mata
yang sangat menyakitkan. “ Maafkan aku As, dulu mungkin aku telah dibohongi
sama Noni, dia bilang kamu sudah punya yang lebih baik dari aku, aku mohon
maafkan aku.” Kata dedi dengan perasaan sedih bercampur bersalah. Sedangkan Putri
berjalan meninggalkan dedi dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi karena
kekecewaan yang sangat karena sepupunya sendiri. Dan pernikahan itu akan
dilangsungkan 5 hari lagi. Putri merasa tersayat hatinya, karena dia harus
datang dalam pernikahan kekasihnya sendiri. Kabar Putri yang ditinggal pacarnya
menikah berhembus sampai ke kampus. “ kasihan Putri ya, sampai segitunya
pacarnya” tutur Yuli “iya, padahal Putri sangat setia” sahut Weni, dari
percakapan mereka tidak disadari Pak Putra ada di belakang mereka. “ayo Masuk
kelas jam saya sekarang” ajak Pak Putra. Mata Weni ga berkedip sedikitpun
melihat orang tampan melitas. Kegiatan belajar berjalan seperti biasa. Namun
Pak Putra tidak semangat mengajar karena yang bisa menyelesaikan soal tidak
masuk, Putri sakit karena patah hati. Tempat pelampiasan sakit hati Putri
adalah pantai yang juga tempat rekreasi, Putri duduk dengan melingkarkan tangannya
di kakinya, wajahnya sayu dan pipinya yang merah selalu di hiasi linangan air
mata dan rambutnya yang panjang dibiarkan terurai di belai angin pantai. Tak
jauh dari tempat Putri, terlihat Pak Putra juga menikmati aroma air laut yang
di barengi dengan suasana matahari terbenam. “eh kalau ga salah itu kan Putri?”
ujarnya dalam hati. “kebetulan aku dengar dia patah hati dan sampai sakit,
kasihan dia aku hampiri dia akan aku hibur” ujarnya dalam hati juga. “ Hai...”
sapa Pak Putra. Putri menoleh dan sangat terkejut melihat Pak Putra ada di
sampingnya, mimpi apa nyata. “ Hai Pak,” Putri mengusap pipinya yang masih ada
sisa air mata. “Knapa kamu kemarin ga hadir di kampus? Tanpa kamu kelas ga
seru” cumbu Pak Putra. “anu...saya..a” Ucap Putri terbata dan tidak sempat
melanjutkan karena bibirnya ditutup dengan jari telunjuk pak Putra. “ Udah ga
usah kamu cerita lagi ntar kamu sedih lagi, saya sudah tau semua” ucap Pak Putra
dengan nada lembut di dekat telinga Putri. Putri Pun merasakan ada getaran yang
berbeda, hembusan napasnya yang hangat membuat Putri merasa nyaman. Mereka
menghabiskan senja berdua sambil bercanda di saksikan ombak dan angin pantai.
“As...kamu pulang ya, ntar sakit lagi” ucap Pak Putra sambil mengusap-usap
kepala Putri. Putri hanya mengangguk saja dengan penuh tanda tanya, “ada apa
dengan semua ini, setahu aku Pak Putra adalah pendiam dan sangat jarang keluar
kata kecuali pada saat mengajar. Aku merasa ada yang beda, aku masih merasakan
nafasnya, apakah aku menyukainyaa? Apakah ini mimpi? Apakah ini semua hanya
kebetulan saja? Aduh Tuhan apa semua ini?” ujar Putri dalam hati. Hari-hari Putri
tidak lagi ditemani tangisan padahal 2 hari lagi adalah acara pernikahan Dedi,
dia selalu ditemani Pak Putra. Putri merasa beruntung ada orang yang mau menerima
curhatnya, tapi statusnya ga jelas. “ Maaf aku ga bisa hadir dalam acaramu
nanti” kata Putri. “kenapa kamu tega begitu?” jawab Noni. Putri masih berusaha
menahan air matanya. “Ok lihat saja nanti” jawab Putri sambil berlari menuju
rumahnya. “Pak Putra, apa yang harus saya lakukan, apakah saya akan menghadiri
pernikahan pacar saya?” tanya Putri dengan wajah sedih. “mengapa ga datang?
Nanti aku dampingi ya” rayu Pak Putra. “Tapi...” lanjut Putri. “Ga usah mikir
yang lain” lanjut Pak Putra. Perhatian yang sangat besar diberikan kepada Putri,
dan pada acara pernikahan Dedi, Putri datang dengan Putra, Putri berjalan
berjauhan dan Putra menarik tangan Putri dan menggandengnya. Putri hanya diam
seribu tanda tanya, Putra membawa mobil dan dengan romantis membukakan pintu
untuk Putri. Putri hanya bengong, entah apa yang dipikirkan. Dalam perjalanan
15 menit akhirnya mereka sampai. Putra membukakan pintu dan menggandeng tangan Putri
layaknya Prameswari, semua mata tertuju kepadanya, terutama keluarga Putri yang
bahagia melihat Putri di gandeng cowok ganteng. Semua mengira mereka pacaran,
mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semua berjalan lancar, pulang dari
acara kundangan Putra tidak mengajak Putri langsung kerumahnya tapi Putra ingin
mengajak jalan-jalan Putri karena dia tahu Putri masih diselimuti kecewa.
“wait...rumahku lewat” kata Putri. “iya aku tahu, kita makan jalan-jalan dulu”
jawab Putra. “ Tapi saya masih pakai baju kayak gini” lanjut Putri. “ Iya
tenang aja” Putra menjawab dengan senyuman indah. Putri merasa pusing karena
dia ga cocok naik mobil dia selalu mabuk, padahal Putra membawa mobil mewah.
Akhirnya Putri minta berhenti dan muentah. Putra hanya tersenyum, dan diberi
obat. “ aduh pusing, help me please” kata Putri. Putra segera tancap gas dan
sampailah di restoran yang kelasnya papan atas. “Wah, besar sekali saya belum
pernah kesini, hehe maklum uang ga ada hanya mimpi aja” kata Putri. Putra hanya
tersenyum aja. Mereka menghabiskan hari berdua layaknya sepasang kekasih. Dan
diakhir kencan mereka Putri berpesan kepada Putra. “Pak nanti kalau di kampus
saya minta pak seperti dulu kita jaga jarak meskipun tidak ada apa-apa diantara
kita” ujar Putri dengan malu-malu. “iya tenang saja” sahut Putra. Dan akhirnya
mereka berpisah diantara bulan yang bersinar sempurna yang dihiasi bintang. Keesokan
harinya pagi sekali di depan rumah Putri sudah ada orang yang berdiri tegak,
dengan dilengkapi bunga dan kotak. “kok tumben, ada apa pak? Silahkan masuk,
maaf saya berantakan” kata Putri. Putra melangkahkan kaki ke ruang tamu.
“Silahkan duduk pak” lanjut Putri. “ Iya Thanks...oh iya kamu jangan panggil
saya Pak, panggil Putra aja ga apa-apa” ujar Putra. “anda kan dosen saya” rayu Putri.
Putra hanya tersenyum. Putri ke belakang membuatkan minum Putra sambil berkata
dalam hati “ mengapa Putra sangat perhatian, apakah dia sudah punya pacar? Tapi
aku merasa cinta sama dia, aku takut kehilangan dia”. Putri membawakan minuman
dengan senang. Putri berani bertanya tentang Putra, ternyata Putra sebulan yang
lalu ditinggal nikah sama pacarnya. Jadi mereka berdua memiliki latar belakang
cinta yang sama. “As...bisa ga kamu pergi dengan aku sekarang?” tanya Putra.
“kemana?” tanya Putri . “Aku ingin menunjukkan sesuatu buat kamu” lanjut Putra.
Putri merasa bingung dan tanpa disadari tangannya diambil Putra dan digandeng
di ajak masuk ke mobil Jazz miliknya. Putri hanya diam seribu bahasa, dalam
hatinya bertanya “ mau dibawa kemana saya?” Ternyata sampailah mereka pada
sebuah rumah seperti istana besar dan megah. “Rumah siapa ini?” tanya Putri. Putra
hanya tersenyum dan menarik tangan Putri. Ternyata Putri dibawa ke orangtua Putra.
“Pa,Ma...ini janji saya akan membawa gadis yang akan mendampingi hidup saya”
ucap Putra kepada kedua orangtuanya. Putri merasa disambar petir, padahal
mereka tidak ada status apa-apa malahan dibawa ke rumahnya dan dianggap calon
istrinya. “Iya Putra...itu adalah pilihan kamu, Siapa namanya?” tanya Mama Putra.
“Putri Ma” jawab Putra, “ Mama lihat kamu cocok, trus rencana kamu kapan
pernikahannya?” tanya mama Putra. Wajah Putri semakin bingung “ada apa ini, Putra
belum sempat mengatakan cinta kepada ku” lirihnya dalam hati. “Mau saya kami
tidak menikah dulu, saya ingin tunangan dulu” jawab Putra. “Ok lah...kapan kita
adakan acara pertunangannya?”tanya Papa Putra. “ Nanti Papa aja dah yang
ngurus, saya nurut aja” jawab Putra. “ secepatnya lebih baik” jawab Papa Putra.
Kebingunan Putri semakin menjadi-jadi, mereka makan malam bersama keluarga Putra.
Jam menunjukkan Pukul 20.00 mereka menutup pertemuannya dan Putri diantar
pulang. Di dalam mobil sempat terjadi pertengkaran karena Putri merasa
dipermainkan karena dia tidak tahu apa-apa. “Putra apa yang kamu lakukan? Aku
tidak bisa menerima seperti ini” tanya Putri dengan nada keras. Putra
menghentikan laju mobilnya, “aku mencintai kamu” jawab singkat Putra. “tapi
kamu belum pernah mengatakan cinta sebelumnya, bagaimana dengan keluargaku?
Kamu tidak pernah berpikir tentang aku, kamu egois!” ucap Putri marah. “Tenang Putri
semua keluarga kamu udah tau kita pacaran” kata Putra. “Apa pacaran? Kapan kita
jadian?” tanya Putri. “Kamu tidak suka dengan aku?” tanya Putra. Putri hanya
diam karena sebenarnya dia sangat mencintai Putra. Putra menngambil tangan Putri
dan mendekatkan wajahnya dengan Putri, “Aku mencintaimu sejak pertama bertemu,
aku takut kehilangan kamu, semenjak aku mendengar kamu ditinggal kekasihmu
dengan perempuan lain aku merasa menang, aku bisa mencintaimu, aku bisa
membahagiakan kamu, dan aku harap kamu bisa membahagiakan aku, sayang aku
mencintai kamu” ucap Putra dengan nada lembut dan Putri merasa nyaman setiap Putra
berkata dengan aroma nafasnya yang khas. “Tapi...mengapa kamu tidak memilih Weni?
Dia cantik dan kaya, sedangkan aku hanya orang miskin dan jelek” tandas Putri. “ Kamu tidak jelek, sorot matamu
membuatku merasa nyaman didekat mu” rayu Putra. “Tapi....a..” ucap Putri
terhenti karena ada sesuatu yang menutup bibirnya yang indah, Putra mencium
bibir Putri. Putri hanya diam dan memejamkan mata Putri merasakan cinta Putra
memenuhi tubuhnya. Putri yakin ini bukan permainan, “aku juga mencintaimu Putra”
ucap lirih Putri dalam hati. Putra mengangkat kepalanya “Putri kamu belum
percaya, Aku sangat mencintai kamu” ucap Putra meyakinkan, Putri hanya diam. Putri
berada dalam kebingungan karena selama ini dia tahu Weni sangat mencintai Putra,
kalo sampai dia tahu Putra mencintainya apa yang terjadi, apakah Weni menerima
kenyataan ini. “ Putri, aku tahu selama
ini kamu berbohong dengan aku mengapa kamu melakukannya?” tanya Weni. Dada Putri
merasa sakit mendengar ucapan Weni.
“
maksud kamu?” tanya Putri pura-pura ga
mengerti. “Kamu sudah jadian dengan Pak Putra!
Aku kecewa dengan kamu, aku yakin kamu memperalat Pak Putra. Secantik apa kamu?
Sekaya apa kamu? Biar kamu tau ya Pak Putra itu adalah orang terkaya di kota
ini, pasti kamu mau menggambil kekayaannya biar kamu cepat kaya?” ejek Weni.
“Aduh Weni..ga ada maksud ku kayak gitu. Aku jujur ga pernah memiliki pikiran
seperti itu” ucap Putri dengan sedih. “ok kalau kamu tidak seperti itu, kamu
harus menolak pertunangannya, terus aku yang bakalan gantiin kamu, bersedia ga
kamu?” Ancam Weni. Putri merasa pusing tujuh keliling, “aku mencintai Putra,
Aku ga mau berpisah dengan Putra” ucap lirih Putri dalam hati. “iya aku akan
berusaha melupakannya” ucap Putri dengan sedih. “Ok, ini baru teman namanya”
ucap Weni kegirangan. Perasaan Putri kacau balau, “kalau aku menolak Putra aku
sangat mencitainya dan Putra mencintaiku juga, tapi kalau aku menolak tawaran Weni
semua uang yang orangtuaku pinjam akan ditagih mendadak, aduh bagaimana
ini?”ucap Putri dalam hati. eentah kenapa mungkin karena pikirannya kacau balau
dan tiba-tiba,“BRAAK” suara yang amat keras ditepi jalan. Semua orang
berkerumunan melihat kecelakaan yang amat tragis. Terlihat seorang perempuan
tergeletak bersimpah darah. Putri mengalami kecelakaan yang sangat tragis, dia
tidak sadarkan diri. “TIDAK....” jerit histeris Putra melihat kekasihnya
tergeletak lemas di rumah sakit dengan keadaan koma. “Putri dengarkan aku, aku
disini bersamamu, aku mencintaimu” ucap Putra sedih semua mata tak sanggup
melihat perempuan ini harus pergi dengan tragis. “Putri kamu belum menjawab
pertanyaanku, kamu belum mengatakan kamu mencintaiku” ucap Putra yang menangis
mendapati kekasihnya yang sudah tiada. “ Putri aku mencintaimu, jangan
tinggalkan aku......” jerit Histeris Putra.
Weni
merasa berdosa dan bersalah, karena karena sikapnya itu Putri harus berpulang
kepada Nya. “Putri maafin aku,aku janji ga bakalan merebut hati Putra” Weni
menangis diatas batu nisan Putri.
SELESAI







0 komentar:
Posting Komentar